PIAN (GEORGE FREDERICKSON)

Pendahuluan

Latar Belakang
Administrasi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial. Administrasi sebagai ilmu pengetahuan berada dalam pemikiran manusia ilmuwan senantiasa dihadapkan pada berbagai bantahan dan wajib memberikan penjelasan tentang nilai kebenaran, sesuai dengan prinsip-prinsip umum empiris. Sebenarnya fokus utama dari ilmu administrasi adalah persoalan tentang manusia, terutama yang berkaitan dengan pengaturan dan keteraturan dalam rangka peningkatan kebahagiaan dan kesejahteraan manusia itu sendiri. Yang tentunya ini berhubungan dengan hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Definisi institusi (lembaga sosial) merupakan lembaga sosial atau dikenal juga sebagai lembaga kemasyarakatan salah satu jenis lembaga yang mengatur rangkaian tata cara dan prosedur dalam melakukan hubungan antar manusia saat mereka menjalani kehidupan bermasyarakat dengan tujuan mendapatkan keteraturan hidup.
Pengertian istilah lembaga sosial dalam bahasa Inggris adalah social institution, namun social institution juga diterjemahkan sebagai pranata sosial. Hal ini dikarenakan social institution merujuk pada perlakuan mengatur perilaku para anggota masyarakat. Ada pendapat lain mengemukakan bahwa pranata sosial merupakan sistem tata kelakukan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan menurut Koentjaraningrat Lembaga sosial merupakan satuan norma khusus yang menata serangkaian tindakan yang berpola untuk keperluan khusus manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengertian lain menunjukkan bahwa institusi merupakan :
1. lembaga, pranata yang telah disusun yang terdiri dari adat istiadat, kebiasaan dan aturan-aturan,
2. sesuatu yg dilembagakan oleh undang-undang, adat atau kebiasaan (seperti perkumpulan, paguyuban, organisasi sosial),

Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memberi informasi penjelasan tentang administrasi negara baru khususnya mengenai institusi yang sedang berkembang saat itu menurut H. George Frederickson. Agar pembaca dapat mengetahui tentang semua yang berhubungan dengan istitusi dalam administrasi negara baru.

Pembahasan

Administrasi Negara Baru
Model Institusi
Model institusi adalah hasil karya banyak ahli ilmu sosial pada tahun-tahun 1940-an, 1950-an dan 1960-an. Dalam wujud dasarnya secara metodologis karya itu lebih keras daripada karya mereka yang mula-mula melukiskan birokrasi, karena itu penemuan-penemuannya akan memiliki kekuatan empiris yang lebih kuat. Model institusi adalah penjelmaan era bihavioral, terutama adalam sosiologi dan ilmu politik. Versi yang permulaan dan secara empiris berharga dari model ini bisa didapatkan dalam studi-studi yang dihasilkan oleh Program Kasus Antar Universitas (interuniversity case program).
Pada teoritis institusi kurang berurusan dengan bagaiman merancangkan organisasi yang efisien, efektif dan produktif, namun lebih dengan bagaimana menganalisa dan memahami birokrasi-birokrasi yang ada. Sarjana-sarana ini pada umumnya “positivis” dalam cara memandang mereka, dengan mencari tatanan dalam organisasi-organisasi yang kompleks atau pola-pola yang nyata dari perilaku birokrasi. Sarjana-sarjana administrasi negara yang masuk kategori intituisi tampak agak kurang tertarik kepada bagaimana membuat pemerintahan yang lebih efisien, ekonomis, atau produktif dibanding dengan semata-mata menyelidiki betapa kompleknya organisasai-organisasi berperilaku.
Dalam kategori ini termasuk karya-karya seperti sintesa yang menarik dari James Thompson atas perilaku organisasi, salah satu model yang cukup komplet dalam ilmu sosial modern. Analisa dan sintesa Frederick Mosher atas perilaku atau pengelompokan profesional birokrasi publik tertentu secara empiris maupun logis berharga. Analisa perbandingan Amitasi Etzioni tentang organisasi yang komples adalah sama lengkapnya seperti pengintegrasian ciri-ciri perilaku birokrasi. Para ilmuwan zaman behavioral benar-benar telah memajukan pemahaman sistematis tentang perilaku birokrasi. Memang masih belum ada model atau paradigma yang disepakati, namun sudah ada seperangkat pengetahuan yang pada umumnya disebut “teori organisasi”. Sarjana-sarjana ilmu administrasi negara adalah pemakai-pemakai sistematis dan penyumbang-penyumbang tulisan untuk teori organisasi.
Apabila teori organisasi dan model institusi sudah mulai berkembang dengan baik sebagaimana dikemukakan di sini, apakah landasan-landasan normatif yang menjadi sandaran batang tubuh pengetahuan ini?
Seperti biasa, sarjana-sarjana penganut aliran perilaku sekedar menghindari persoalan-persoalan normatif, menyatakan bahwa tugas mereka adalah menggambarkan organisasi, tidak menganjurkan resep-resep pemecahan. Namun ada aliran-aliran normatif yang kuat dalam model institusi. Salah satu aliran ini bisa digolongkan sebagai aliran para sarjana yang menaruh perhatian besar dalam menganalisa birokrasi dan mengetahuinya sebagai sesuatu yang kuat, menolak perubahan, tampak di luar kendali legislatif atau eksekutif, cenderung mengucil atau mengunci rapat teknologinya dan menjamin sumber-sumber pendapatannya, dan cenderung berurusan dengan dirinya sendiri terutama kelangsungannya. Sesudah pola perilaku ini dikenali, sarjana itu mengamati bahwa birokrasi itu buruk dan harus dipikirkan cara-cara untuk mengendalikannya. Atau, itu cuma merupakan suatu fenomena yang wajar dan merupakan harga yang harus dibayar oleh suatu masyarakat yang kompleks dan maju yang menginginkan pelayanan-pelayanan dari pemerintah.
Salah satu dari sedikit saja usaha terperinci untuk mempertahankan nilai-nilai model institusi dilakukan oleh Charles Lindbloom yang mempersoalkan bahwa rasionalitas bukan hanya tidak mungkin, melainkan juga tidak patut diinginkan. Dalam karyanya, The Intelegence of Democracy: Decision-Making through Mutual Adjusment, dia mengemukakan bahwa birokrasi membuat keputusan-keputusan satu-demi satu, bahwa ini merupakan tawar menawar dan kompromi-kompromi keputusan (sebenarnya tawar-menawar dan kompromi-kompromi dari para elit kelompok kepentingan), dan bahwa mereka menggerakan pemerintahan secara sedikit demi sedikit kearah sasaran-sasaran yang kabur. Lebih jauh dan paling penting, Cuma dengan cara inilah pemerintahan demokratis harus berjalan. Hanya melalui pengambilan keputusan satu demi satu, keahlian dan kecakapan birokrasi itu dapat di integrasikan dengan kecenderungan-kecenderungan kebijakan dan bias-bias politik para pejabat yang terpilih. Mereka yang menentang pandangan inkremental itu mengatakannya sebagai tidak lebih daripada suatu apologi yang rinci untuk cara beroperasinya sekarang suatu sistem pemerintahan yang tidak efektif. Dengan berlindung dibalik “penggambaran demokrasi”, mereka menjelaskan dan membenarkan kelemahan-kelemahan sistem-sistem demokrasi. Atas nama empirisisme, mereka juga menyimpulkan, “begitulah keadaan dalam organisasi-organisasi yang kompleks dan sesungguhnya tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengubahnya”. Atau, “begitulah keadaan dalam organisasi-organisasi yang kompleks dan barangkali memang begitulah mereka harus ada.

Penutup
Kesimpulan
Bahwa Paradigma Administrasi Negara Baru menurut H. George Frederickson terdiri dari lima paradigma antara lain :
A. Masa Birokrasi,
B. Masa Neobirokrasi,
C. Masa Instuisi,
D. Masa Hubungan Kemanusiaan, dan
E. Masa Pilihan Publik,
Dan masing-masing masa memiliki ciri tersendiri.

Daftar Pustaka

*Frederickson, H.G. 1984. Administrasi Negara Baru. Jakarta: LP3ES.
*http://www.scribd.com/doc/38409735/Pengantar-Ilmu-Administrasi-Negara
*http://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_sosial
*http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2200848-pengertian-institusi/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s